Bahan Seminar Gawai OMK Mukok

0
28

RELASI AGAMA DAN BUDAYA
(Pandangan Gereja Mengenai Budaya Gawai Dalam Masyarakat Dayak)

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kebudayaan sering dibicarakan dan juga tidak mungkin orang tidak berurusan dengan kebudayaan. Masyarakat adalah sekumpulan orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat. Kebudayaan dimaksudkan sebagai suatu sarana sekaligus upaya manusia yang digunakan untuk menyempurnakan semua potensi yang ada pada diri manusia itu sendiri.

Gawai merupakan salah satu tradisi yang turun temurun dari nenek moyang kita orang dayak. Tradisi ini berlangsung hingga saat ini. Tradisi gawai biasanya di laksanakan sekali dalam setahun, umumnya dilaksanakan setelah panen padi. Adapun tujuan dari kegiatan ini salah satunya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan (Ake Penompa) atas hasil panen yang diperoleh. Selain sebagai rasa syukur kegiatan ini dapat mempererat rasa kekeluargaan baik sesama suku dayak maupun suku lainnya. Lantas bagaimana pandangan Gereja atas tradisi gawai dalam masyarakat Dayak?

Secara umum Gereja Katolik melihat bahwa budaya sangat berkaitan erat dengan perkembangan Gereja itu sendiri. Dokumen Konsili Vatikan II mengatakan: ”Oleh karena itu mau tidak mau kebudayaan manusia mencakup dimensi historis dan sosial, dan istilah kebudayaan sering kali mengandung arti sosiologis dan etnologis. Dalam arti itu lah orang berbicara tentang kemacam ragaman kebudayaan. Sebab dari pelbagai cara menggunakan bermacam-macam hal, menjalankan pekerjaan dan mengungkapan diri, menghayati agama, dan membina tata susila, menata undang-undang dan membentuk lembaga-lembaga hukum, memajukan ilmu pengetahuan serta kesenian, dan mengelola keindahan”. ( GS Art 53 ).

Dari dokumen ini jelas bahwa Gereja telah melihat dengan saksama bagaimana kebudayaan sangat berkaitan erat dengan pandangan Gereja tentang kebudayaan itu sendiri. Karena lewat kebudayaan segala sesuatunya dapat di tentukan dengan baik. Sama halnya misalnya dengan budaya atau tradisi gawai/nosu minu podi yang merupakan hasil dari ketentuan-ketentuaan dalam kebudayaan Dayak. Gawai tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Penompa (Tuhan) atas hasil ladang yang baik. Ini berkaitan dengan keberimanan yang dimiliki oleh masyarakat Dayak karena segala sesuatu yang berkenaan dengan yang hidup merupakan pemberian dari Allah. Maka iman sangat mendukung kebudayaan yang ada. Kebudayaan dan keberimanan secara bersama-sama menyelaraskan kearifan lokal yang terus-menerus harus dilestarikan sampai kapan pun. Karena dengan mengelolah alam dapat menghasilkan sesuatu yang baik dan layak bagi segenap manusia. Dengan demikian manusia telah melaksanakan rencana Allah untuk menguasai bumi dan isinya.

Gereja menilai bahwa ada hubungan antara warta gembira tentang Yesus Kristus dengan kebudayaan manusia. Perkembangan Gereja yang hidup di berbagai situasi, telah memanfaatkan sumber-sumber aneka budaya, yang melalui pewartaan menyeberluaskan dan menguraikan pewartaan Kristus kepada semua bangsa untuk menggali dan makin menyelaminya, serta untuk mengungkapannya secara lebih baik dengan perayaan liturgi dan dalam kehidupa jemaat beriman yang beraneka ragam ( GS Art 58 ).

Gereja Katolik sendiri memiliki tiga pilar utama dalam sejarahnya yaitu kitab Suci, tradisi dan magisterium. Dalam hal ini tradisi menjadi sorotan utama dalam berevangelisasi di tengah budaya yang kontekstual. Bertolok ukur melalui proses perwartaan kabar gembira yang Yesus bawa ke tengah-tengah umat Israel, Yesus “memanfaatkan” tradisi yang ada di masyarakat Israel. Lewat tradisi, Yesus dengan mudah menyampaikan warta gembira kerajaan Allah. Sama halnya dengan Gereja Katolik, lewat tradisi Gereja dapat di terima dengan mudah oleh masyarakat yang budaya dan tradisinya sangat kental. Contohnya lewat perayaan liturgi Gereja, inkulturasi menjadi penghubung antara liturgi Gereja dan budaya.

Berdasarkan hal tersebut, Gereja mengingatkan dan mengharapkan bahwa suatu kebudayaan/tradisi harus diarahkan kepada kesempurnaan pribadi manusia seutuhnya, kesejahteraan paguyuban dan segenap masyarakat. Maka Gereja tetap melakukan pembinaan sedemikian rupa sehingga perkembangan kemampuan untuk menyelami sesuatu, merenungkannya, membentuk pribadi, dan memupuk semangat keagamaan kesusilaan dan sosial.

Gereja memberi tugas kepada umat beriman untuk mewujudnyatakan kebudayaan yang telah lama ada agar dapat semakin berkembang dalam jaman yang semakin moderen tanpa harus menggerus kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan/tradisi gawai menjadi salah satu contoh yang fundamen dalam tradisi suku Dayak (khususnya Dayak Kabupaten Sanggau ). Kekayaan budaya yang dianggap mendasar ini dapat ditingkatkan dengan cara menigkatkan studi yang lebih tinggi sehingga dalam suatu masyarakat mereka sedapat mungkin menunaikan tugas-tugas, jabatan-jabatan, atau jasa pelayanan yang sesuai dengan keahlian maupun kemahiran yang telah di peroleh. Hal ini perlu mengingat budaya asing bisa kapan saja masuk mengkontaminasikan keaslisaan budaya yang telah lama ada.

Maka kebudayaan yang telah lama mengakar khususnya pada kita orang Dayak merupakan sebuah kekayaan yang harus tetap dijaga kearifaannya. Dalam menjaga kelestariaan budaya itu tidak hanya berdasarkan pemahamaan akan leluhur atau kebiasaan nenek moyang saja tetapi harus berdasarkan perspektif/pandangan Gereja. Karena Gereja juga memiliki pemahamaannya sendiri yang berhubungan dengan kebudayaan. GS Art 53-59 telah memberi pemahamaan kepada kita bagaimana Gereja melalui dokumennya tetap memperhatikakan keberadaan Gereja sebagai sesuatu yang harus di kembangkan.

Kita sebagai orang Muda Katolik yang adalah umat beriman dipanggil untuk menyelaraskan antara iman dan budaya ini dikarenakan selain sebagai orang yang beragama kita juga sebagai generasi yang berbudaya. Iman dan budaya hendaknya berjalan bergandengan dalam memajukan kehidupan bersama. Dalam pandangan Gereja Katolik iman tidak bisa di pisahkan dari budaya. Iman dan budaya selalu berjalan bersama-sama, saling mengisi satu sama lain. Melalui budaya pewartaan iman dapat dilakukan. Dengan kata lain budaya dapat menjadi pintu masuk bagi pewartaan dalam Iman. Jadi sebagai orang muda Katolik diharapkan tetap melestarikan budaya kita seraya meningkatan kualitas iman kita kepada Tuhan. Dengan demikian selain beriman kita juga menjadi pribadi yang berbudaya. Jadilah OMK yang semakin beriman dan berbudaya.

Oleh: P. Ignatius F. Thomas, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here