Filsafat dalam Cakrawala Humaniora menurut K. Bertens

0
50

 

1. Sekilas pengertian humaniora

Humaniora berasal dari bahasa Latin. Secara harfiah, humaniora (bentuk jamak) berarti hal-hal yang lebih manusiawi. Dibentuk dari humanus (adjektiva, tunggal) yang berarti manusiawi, dengan komperatifnya humanior yang berarti lebih manusiawi.

Berdasarkan asal-usul istilah di atas, humaniora mendapat makna: studi atau kelompok ilmu-ilmu yang membuat kita lebih manusiawi. Ini berarti humaniora merupakan ilmu-ilmu yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi. Misalnya teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, ilmu bahasa, kesusastraan, dan ilmu-ilmu kesenian.

2. Humaniora sebagai warisan Renaisans

Pengertian humaniora pertama kali muncul pada zaman Renaisans, masa peralihan antara Abad Pertengahan dan Zaman Modern. Renaisans adalah permulaan Zaman Modern. Renaisans ini mulai berkembang di Italia dan dari sini cepat menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.

Renaisans berarti kelahiran kembali. Yang dimaksud adalah kelahiran kembali dari kebudayaan Yunani dan Romawi yang klasik. Artinya, dari masa jayanya dua kebudayaan tersebut. Di sini tidak hanya menyangkut sastra saja tapi seluruh wilayah kesenian, termasuk seni rupa, arsitektur, dan sebagainya. Dua tokoh kesenian termasyhur dari masa Renaisans adalah Leonardo da Vinci dan Michaelangelo.

Sering kali dikatakan bahwa zaman Renaisans ditandai oleh humanisme. Dengan humanisme ini dimaksudkan seluruh gerakan intelektual yang mencari inspirasinya pada sastra serta kebudayaan Yunani dan Romawi klasik dan dengan demikian mau memajukan humanitas. Humanitas sendiri merupakan pengertian Romawi yang khas dan antara lain memainkan peranan penting pada orator-sastrawan-filsuf Roma bernama Cicero (106-43 SM). Humanitas mewujudkan cita-cita tertinggi dalam kebudayaan Yunani-Romawi. Renaisans melihat manusia sebagai individu yang memiliki kemampuan, martabat, dan nilai sendiri.

3. Penutup

Studi humaniora dianggap sebagai salah satu studi yang penting. Studi ini melatih manusia untuk berpikir secara mandiri. Belajar berpikir mandiri dan memperoleh wawasan luas memang bisa dilihat sebagai tujuan pokok dari pengajaran humaniora. Hal yang penting juga adalah studi humaniora, khususnya filsafat akan melatih orang untuk berpikir kritis, analitis, dan serentak holistik. Kritis karena ia tahu membedakan yang teruji dan tidak teruji, yang berdasar dan tidak berdasar. Ia bisa melihat nuansa-nuansa yang tidak boleh diabaikan. Dikatakan analitis karena ia langsung bertanya tentang hakikat suatu problem dan tahu mengurai unsur-unsurnya. Dan dikatakan holistik karena ia selalu melihat, selalu tahu menempatkan suatu problem dalam perspektif yang menyeluruh.

Sumber: Buku Pengantar Filsafat dalam tulisan K. Bertens

Oleh: Pastor Ignatius F. Thomas, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here