Mengenal Sakramen Baptis dalam Gereja Katolik

2
322

SEPUTAR SAKRAMEN BAPTIS

1.1. Pengantar

Sakramen Baptis menjadi pintu masuk untuk menjadi seorang yang beriman Katolik. Dengan dibaptis, ia dapat menerima Sakramen-sakramen lainnya. Pembaptisan sangat penting, sebab dengan pembaptisan kita dibersihkan dari segala dosa-dosa dan dilahirkan sebagai putra-putri Allah dan anggota Gereja Kristus.[1]  

Pada bagian ini kita akan membahas hal-hal praktis berkaitan dengan Sakramen Baptis. Pembahasan akan dimulai dengan penjelasan tentang katekumen. Kemudian menyusul penjelasan mengenai baptis dewasa dan baptis bayi. Di akhir bagian ini diberikan penjelasan teknis mengenai kartu baptis dan surat baptis, beserta fungsinya.

1.2. Manfaat dari Sakramen BaptisYesus dibaptis di Sungai Yordan

Di zaman ini banyak orang yang selalu melihat manfaat dari apa yang dilakukan atau diperolehnya. Maka, muncul pertanyaan, “Apa manfaat dari Sakramen Baptis?” Dalam ajaran Gereja, kita mengenal buah-buah/ rahmat dari Sakramen Baptis. Buah-buah Sakramen Baptis ini merupakan manfaat rohani yang kita peroleh dari Sakramen Baptis. Manfaat dari Sakramen Baptis tersebut, antara lain:

a) Menghapus dosa asal, semua dosa pribadi, dan semua hukuman karena dosa. Dosa pribadi yang dimaksud di sini ialah dosa yang dilakukan sebelum pembaptisan, dan bukan dosa yang dilakukan setelah pembaptisan.

b) Orang yang dibaptis menjadi “ciptaan baru”, anak angkat Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, anggota Kristus, ahli waris bersama Dia, dan kenisah Roh kudus.  Allah Tritunggal Mahakudus menganugerahkan kepada orang yang dibaptis rahmat pengudusan, yaitu antara lain: keutamaan teologal (iman, harapan, dan kasih), anugerah-anugerah Roh Kudus, dan keutamaan-keutamaan susila.

c) Orang yang dibaptis digabungkan ke dalam Gereja Kristus, dan secara sah menjadi anggota Gereja Katolik.

d) Orang yang dibaptis memiliki ikatan persatuan dengan semua orang Kristen, bahkan dengan mereka yang Kristen Non-Katolik, yang baptisannya diakui oleh Gereja Katolik.

e) Orang yang dibaptis menerima Meterai rohani yang tak terhapuskan, sekalipun oleh dosa-dosa berat.[2]

1.3. Katekumen

Katekumen adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menjadi Katolik, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mereka perlu dipersiapkan dengan baik untuk mengenal dan mendalami iman Katolik melalui katekese/ pengajaran katekumen.[3] Katekumen ini dapat digolongkan dalam beberapa kategori, yakni menurut usia dan agama asal. Menurut usia, katekumen ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu: katekumen anak-anak (SD dan SMP), dan katekumen dewasa (SMA ke atas). Sedangkan menurut agama asal, katekumen ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) Katekumen yang berasal dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) atau yang bernaung di bawahnya. Mereka dipersiapkan untuk diterima menjadi anggota Gereja Katolik, tanpa harus dibaptis lagi, kecuali sahnya baptisan yang telah ia terima masih diragukan.[4](2)  Katekumen yang berasal dari agama lain, yakni mereka yang beragama Islam, Budha, Hindu, Konfuchu, atau Kristen yang tidak bernaung di bawah GKI. Mereka dipersiapkan untuk menjadi anggota Gereja Katolik dan harus dibaptis.

Adapun syarat adminitratif bagi para katekumen ialah:

a) Mendaftarkan diri untuk menjadi katekumen di kantor paroki, dengan membawa fotocopy Akte Kelahiran, KTP, dan Surat Kawin (jika sudah menikah).

b) Menyerahkan surat pernyataan keinginan menjadi orang Katolik.

c) Mengikuti pelajaran Katekumen yang telah ditetapkan oleh Paroki sampai selesai.

1.4.Halangan untuk Menerima Sakramen Baptis

Secara umum semua orang bisa menjadi katekumen.[5] Artinya, semua orang memiliki hak untuk menjadi orang Katolik. Namun, dalam beberapa kasus khusus ada halangan yang sifatnya pastoral bagi seseorang untuk dibaptis menjadi orang Katolik. Misalnya, ada sepasang suami isteri yang telah menikah secara Katolik. Dalam perjalanan waktu, mereka bercerai secara adat/ sipil. Kemudian, suami/ isteri ini bertemu dengan perempuan/ laki-laki lain yang beragama lain (Non-Katolik). Lalu, mereka pun menikah secara adat/ sipil/ tata cara agama lain. Suatu hari perempuan/ laki-laki ini ingin dibaptis menjadi orang Katolik. Pertanyaannya, bolehkah mereka dibaptis menjadi Katolik?

Secara pastoral, perempuan/ laki-laki yang telah menikah dengan pihak Katolik yang pernah bercerai ini terhalang untuk dibaptis, bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ikatan perkawinannya dengan pasangannya yang sudah beragama Katolik dan pernah menikah secara Katolik sebelumnya. Apabila, ia dibaptis menjadi Katolik, maka otomatis perkawinan mereka itu menjadi perkawinan yang sah secara Katolik, sebab pasangannya itu sudah beragama Katolik. Namun, hal itu bertentangan dengan hakikat perkawinan Katolik yang tak terceraikan. Mensahkan perkawinan mereka sama saja menyetujui perceraian yang telah dilakukan oleh pihak yang Katolik tersebut.

Maka, berhadapan dengan kasus seperti ini ada beberapa solusi yang dapat diberikan, antara lain:

(a) Meminta pihak Katolik untuk mengurus terlebih dahulu perkawinannya yang sebelumnya di pengadilan Gereja sampai tuntas, sebelum membaptis pasangannya yang baru.

(b) Apabila solusi pertama tidak terpenuhi, maka solusi terakhir ialah menolak secara baik pembaptisan tersebut, dengan menjelaskan alasan-alasan seperti yang telah dipaparkan di atas.

Karena begitu luhurnya Sakramen dalam Gereja Katolik, maka tidak boleh dinodai oleh kepentingan apapun yang sifatnya duniawi. Sakramen yang satu berkaitan dengan Sakramen lainnya, seperti tampak dalam contoh kasus di atas, bahwa Sakramen Baptis berkaitan erat dengan Sakramen Perkawinan, dan demikian sebaliknya. Maka dari itu, ketika menerima calon Katekumen perlu penyelidikan status animarum calon yang lengkap dan rinci, terutama berkaitan dengan status perkawinannya. Hal ini dibutuhkan, supaya tidak terjadi pertentangan antara Sakramen yang satu dengan Sakramen yang lain.

1.5. Baptis Dewasa

Pembaptisan orang dewasa dalam gereja Katolik dapat dilaksanakan, setelah si katekumen  menyelesaikan semua pelajaran katekumennya. Hal penting yang perlu juga diperhatikan ialah pemilihan nama baptis calon. Gereja mengajarkan, “Hendaknya orangtua, wali baptis dan Pastor Paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.”[6] Maka dari itu, nama baptis harus menggunakan nama-nama orang kudus (santo-santa), sebab nama baptis mempunyai nilai rohani, yakni supaya orang yang dibaptis tersebut dapat meneladani teladan hidup dari orang kudus yang namanya digunakan oleh orang tersebut, dan orang kudus itu sendiri akan menjadi pelindung bagi dirinya, yakni sebagai sahabat yang senantiasa mendoakannya dari surga.[7]  Nama baptis ini dapat dicari di buku Doa-Ku, atau buku-buku tentang Orang Kudus.

Pembaptisan ini dapat dilakukan di dalam Perayaan Ekaristi, maupun Ibadat Sabda oleh Imam/ Diakon. Adapun peralatan liturgi yang perlu disiapkan, antara lain: air baptis, minyak krisma, lilin baptis untuk calon baptis, kain putih, dan lilin Paskah.[8]

Setelah dibaptis data orang yang sudah dibaptis tersebut harus segera dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizatorum)[9], Kartu Persona Baptis (atau sering disebut Kartu Tik), dan Buku Keluarga (apabila ia berasal dari keluarga katolik). Dari pihak orang yang sudah dibaptis harus segera mengurus Kartu Baptis. Kartu Baptis ini berguna seperti KTP, yaitu sebagai kartu identitas orang Katolik. Kartu ini berguna untuk mengurus Surat Baptis atau Buku Keluarga.

1.6. Baptis Bayi

Gereja mengajarkan bahwa anak-anak yang lahir dari keluarga Katolik harus segera dibaptis pada minggu-minggu pertama setelah kelahirannya,[10] supaya mereka memperoleh rahmat menjadi anak Allah.[11] Ada baiknya jika sebelum upacara pembaptisan ada pembekalan singkat untuk para orang tua calon baptis.[12]  Dalam pembekalan ini dapat dijelaskan pula pentingnya nama baptis, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Syarat administratif yang diperlukan untuk Pembaptisan bayi adalah mendaftarkan diri ke kantor paroki dengan membawa Buku Keluarga (jika ia berasal dari keluarga Katolik) dan Akte Kelahiran (kalau sudah ada).

Sama halnya dengan pembaptisan dewasa, pembaptisan bayi pun harus dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizatorum), Kartu Persona Baptis (atau sering disebut Kartu Tik), dan Buku Keluarga (apabila ia berasal dari keluarga Katolik). Sesudah pembaptisan anaknya, orang tua harus segera mengurus Kartu Baptis. Kartu Baptis ini berguna seperti KTP, yaitu sebagai kartu identitas orang Katolik. Kartu ini berguna untuk mengurus Surat Baptis atau Buku Keluarga.

1.7. Adakah Halangan bagi Pembaptisan Bayi?

Kadang kala orang bertanya, “Apakah anak yang lahir dari perkawinan yang belum disahkan secara Gereja Katolik boleh dibaptis?” atau “Apakah anak yang lahir dari keluarga non-Katolik boleh dibaptis?” Secara prinsipil tidak ada halangan bagi seorang bayi untuk dibaptis secara Katolik, walaupun kedua orang tuanya telah melakukan kesalahan (tidak menikah secara Katolik). Kesalahan orang tuanya tersebut tidak dapat ditimpakan kepada anaknya yang tak bersalah sama sekali.

Akan tetapi, secara pastoral sebelum membaptis bayi yang orang tuanya belum menikah secara Katolik atau berasal dari agama lain, harus dipastikan bahwa ada orang, entah itu orang tua, keluarga, atau wali, yang menjadi pembimbing anak ini dalam menghayati iman Katolik. Artinya, harus ada jaminan, bahwa setelah dibaptis anak ini akan didampingi dan dibimbing, entah oleh orang tuanya, keluarganya, atau orang lain, secara iman Katolik.[13]

Untuk aturan lainnya menyesuaikan dengan kebijakan pastoral dari Paroki setempat, yang tentunya pasti memperhatikan kultur budaya dan kondisi umat di paroki tersebut.

1.8. Baptis Bersyarat

Sakramen Baptis hanya diberikan sekali seumur, dan materainya tak terhapuskan.[14]Akan tetapi, dalam kasus khusus “terpaksa” dilakukan baptisan bersyarat, karena adanya keraguan.[15]  Misalnya, seseorang merasa sudah dibaptis, namun ketika dicek kelengkapan data baptisnya di paroki, tidak ditemukan data tersebut. Mungkin, ketika dibaptis tidak dicatat atau pihak yang mengurus tidak melaporkan ke paroki. Bisa jadi juga seseorang merasa sudah dibaptis, tetapi sebenarnya belum dibaptis. Maka, dalam kasus ini berlaku pembaptisan bersyarat. Demikian pula halnya seseorang yang berasal dari Kristen non-Katolik yang hendak masuk menjadi anggota Gereja Katolik. Apabila terdapat keraguan mengenai sahnya pembaptisan tersebut, maka orang tersebut dapat dibaptis bersyarat.[16]

Sama halnya dengan pembaptisan dewasa dan bayi, pembaptisan bersyarat juga harus dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizatorum), Kartu Persona Baptis (atau sering disebut Kartu Tik), dan Buku Keluarga (apabila ia berasal dari keluarga Katolik). Dari pihak orang yang sudah dibaptis harus segera mengurus Kartu Baptis. Kartu Baptis ini berguna seperti KTP, yaitu sebagai kartu identitas orang Katolik. Kartu ini berguna untuk mengurus Surat Baptis atau Buku Keluarga.

1.9. Baptis Darurat

Dalam situasi normal pelayan baptis adalah Uskup, Imam, dan Diakon. Akan tetapi, dalam keadaan darurat, misalnya seorang yang ingin dibaptis tersebut berada dalam kondisi sekarat, siapa pun bisa membaptisnya. Syarat yang dituntut dari orang yang ingin membaptis dalam keadaan darurat, antara lain:

(1) Ia harus melakukan apa yang dilakukan Gereja waktu Pembaptisan. Misalnya: Gereja mengajarkan bahwa pembaptisan harus menggunakan air (HO2), dan bukan yang lain.

(2) Ia harus menggunakan rumusan Pembaptisan yang bersifat Trinitas[17], yaitu: “(nama…) Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin”,sambil mencurahkan air sebanyak tiga kali.[18]

Sama halnya dengan Pembaptisan dalam keadaan normal, Pembaptisan  darurat juga harus dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizatorum), Kartu Persona Baptis (atau sering disebut Kartu Tik), dan Buku Keluarga (apabila ia berasal dari keluarga Katolik). Oleh karena itu, pihak yang membaptis harus segera melapor ke paroki sesudah melakukan pembaptisan tersebut[19].

1.10. Surat Baptis dan Fungsinya

Surat baptis merupakan salinan dari Buku Baptis (Liber Baptizatorum), yang menerangkan bahwa orang yang namanya tercantum dalam surat tersebut sudah dibaptis secara Katolik, atau sudah menerima sakramen-sakramen lainnya (Krisma, Perkawinan, Tahbisan, atau Kaul Kekal). Surat baptis ini digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya: untuk mendaftar menjadi calon Komuni Pertama, Krisma, Kursus Persiapan Perkawinan,  masuk Seminari/ Biara, Sekolah, dan lain-lain.

Surat baptis ini diperlukan untuk memastikan, bahwa orang yang namanya tercantum di dalam surat baptis tersebut sudah dibaptis secara Katolik, dan bisa menerima sakramen-sakramen lainnya, apabila surat baptis tersebut digunakan sebagai syarat untuk mendaftar menjadi anggota calon Komuni Pertama, Krisma, atau Kursus Persiapan Perkawinan. Sedangkan untuk keperluan di luar sakramen, surat baptis ini diperlukan sebagai syarat yang dituntut oleh instansi yang bersangkutan (Sekolah, Seminari, Biara, dan lain-lain). Surat baptis hanya berlaku untuk satu jenis keperluan saja, dan tidak dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Contoh: surat baptis untuk Komuni Pertama tidak dapat digunakan untuk mendaftar menjadi anggota Kursus Persiapan Perkawinan atau yang lainnya. Dalam mengurus surat baptis persyaratan yang harus dibawa ialah: Kartu Baptis dan Buku Keluarga (jika ia berasal dari keluarga Katolik).

Oleh: Diakon Vinsensius, Pr

Editor: P. Ignatius F. Thomas, Pr

 

 

 

[1] KGK, 1213.

[2] Bdk. KGK. 1262-1274.

[3] KGK, 1230.

[4] Bdk. KHK. 869§2.

[5] Bdk. KHK. 864.

[6] KHK. 855.

[7] Kompendium KGK, 264.

[8] KGK, 1239 – 1243.

[9] KHK 877§1.

[10] KHK 867§1

[11] KGK, 1250.

[12] KHK 851§2

[13] KHK 868§2

[14] KGK, 1272.

[15] KHK 869§1

[16] KHK 869§1-2

[17] KGK, 1256.

[18] KGK, 1240.

[19] KHK 878.

2 KOMENTAR

  1. whoah this weblog is excellent i like reading your posts. Keep up the great paintings! You know, a lot of people are looking around for this information, you can aid them greatly.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here