Mengenal Sakramen Ekaristi dalam Gereja Katolik

0
228

SAKRAMEN EKARISTI

2.1. Pengantar

Sakramen Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan orang Katolik. Dalam Sakramen Ekaristi, karya pengudusan Allah untuk kita dan ibadah kita kepada-Nya mencapai puncaknya. Sakramen Ekaristi berisikan seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus. Persatuan dengan kehidupan ilahi dan kesatuan dengan Umat Allah diungkapkan dan dilaksanakan dalam Sakramen Ekaristi. Melalui Sakramen Ekaristi, kita dipersatukan dengan liturgi surgawi dan dapat mencicipi kehidupan kekal.[1]

Perayaan Ekaristi hanya dapat dipimpin oleh Uskup dan imam.[2] Pada bagian ini akan dijabarkan buah-buah dari Komuni Kudus, perihal Komuni Pertama, halangan-halangan untuk menerima Komuni Kudus, bahan Ekaristi, dan Komuni satu dan dua rupa.

2.2. Manfaat dari Komuni Kudus

Sama halnya seperti Sakramen Baptis mempunyai manfaat rohani, demikian pula Komuni Kudus memiliki manfaat rohani bagi mereka yang menyambut dalam keadaan pantas (kondisi berahmat/ tidak berada dalam kondisi dosa berat). Manfaat/ buah-buah komuni kudus adalah: mempererat kesatuan kita dengan Kristus dan Gereja-Nya, menjaga dan membaharui hidup rahmat yang diperoleh saat menerima Sakramen Baptis dan Krisma, membuat kita berkembang dalam cinta kasih kepada sesama, memperkuat kita dalam cinta kasih, menghapus dosa-dosa ringan, dan menjaga kita dari bahaya dosa berat di masa depan.[3]

 2.3. Komuni Pertama

Seorang Katolik yang ingin menerima Komuni perlu disiapkan melalui katekese/ pelajaran persiapan komuni, agar mereka dapat memahami misteri Kristus sesuai daya tangkap mereka dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan khidmat.[4]Adapun syarat admininistratif yang perlu dipenuhi untuk mengikuti pelajaran tersebut, antara lain:

1) Menurut Hukum Gereja, usia seorang yang dapat menerima Komuni ialah usia di mana seorang dapat menggunakan akalbudinya.[5]Kebijakan pastoral Paroki St. Maria Bunda Pengharapan Bunut menetapkan usia minimal peserta komuni pertama adalah Kelas 4 SD.

2) Membawa Buku Keluarga, untuk mengurus surat baptis, jika ia dibaptis di paroki tersebut, dan agar data Komuni Pertama dapat dicatat di dalamnya.

3) Surat Baptis Terbaru dari Paroki asal.

4) Mengisi Formulir Pendaftaran.

5) Mengikuti pelajaran persiapan Komuni sampai selesai.

6) Menerima Sakramen Tobat sebelum menerima Komuni Pertama.[6]

Persyaratan lainnya menyesuaikan dengan kebijakan pastoral dari paroki setempat. Tanggal penerimaan Komuni Pertama hendaknya ditulis di Buku Baptis, Buku Status Animarum (SA), dan Buku Keluarga dan Kartu Persona Baptis (biasa disebut Kartu Tik). Menurut kebiasaan di beberapa paroki, para peserta Komuni Pertama diberikan semacam sertifikat yang menjadi Kenangan Komuni Pertama.

2.4. Halangan untuk Menerima Komuni Kudus

Ada beberapa kasus yang menyebabkan seseorang terhalang untuk menerima Komuni Kudus, yaitu antara lain:  ekskomunikasi, interdik, dan dosa berat.[7]

Ø  Dosa ekskomunikasi adalah dosa yang membuat seorang Katolik dikucilkan dari persekutuan atau komunitas Gereja Katolik. Ekskomunikasi yang sifatnya langsung terkena pada seseorang, tanpa harus dinyatakan oleh orang lain atau pihak yang berwenang (latae sententiae), yaitu antara lain: dosa kemurtadan dari iman (pindah agama), heretik (menyebarkan ajaran sesat, yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik),  skismatik (mendirikan Gereja baru dengan memisahkan diri dari persekutuan Gereja Katolik),[8]membuang Hosti Kudus atau membawa dan menyimpannya untuk tujuan sakrilegi (penghinaan atau pelecehan terhadapan Sakramen Mahakudus),[9] melakukan aborsi,[10] dan melakukan tindak kekerasan fisik terhadap Paus.[11]

Ø Contoh dosa interdik, antara lain: melakukan tindak kekerasan fisik terhadap Uskup,[12]membangkitkan permusuhan atau kebencian orang banyak terhadap Paus atau Uskup, karena suatu tindak kuasa atau pelayanan gerejawi tertentu, atau menghasut orang banyak untuk tidak taat kepada mereka (Paus atau Uskup),[13] dan mempropagandakan atau memimpin perkumpulan yang melawan Gereja Katolik.[14]

Ø Seseorang yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.[15] Misalnya, seseorang yang belum membereskan pernikahannya secara Katolik, atau melakukan tindak perceraian pernikahan yang telah diberkati secara Katolik. Untuk kasus pertama, mereka harus merehap terlebih dahulu pernikahannya secara Katolik, baru boleh menerima Komuni Kudus. Untuk kasus kedua mereka harus membereskan terlebih dahulu status pernikahannya di pengadilan Gereja (tribunal), sebelum menerima Komuni Kudus. Sedangkan, seseorang yang melakukan dosa berat lainnya, yaitu dosa-dosa yang dilarang dalam Sepuluh Perintah Allah, harus mengaku dosa terlebih dahulu sebelum menerima Komuni.[16]

2.5. Komuni Satu dan Dua Rupa

Komuni Suci dapat diterima dalam satu atau dua rupa. Komuni satu rupa ialah menerima Tubuh Kristus dalam rupa roti, atau Darah Kristus dalam rupa rupa anggur. Sedangkan Komuni dua rupa ialah menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur.[17] Karena alasan pastoral, Komuni Suci pada hari Minggu diberikan dalam satu rupa (Tubuh Kristus dalam rupa roti). Namun, pada misa harian atau misa yang dihadiri oleh sedikit umat, Komuni biasanya diberikan dalam dua rupa (Tubuh dan Darah Krisus dalam rupa roti dan anggur).

 

Oleh: Diakon Vinsensius, Pr

Editor: P. Ignatius F. Thomas, Pr

 

[1] Bdk. Kompendium KGK. 274.
[2] Bdk. Kompendium KGK. 278 dan KHK. 900§1.
[3] Bdk. Kompendium KGK. 292.
[4] Bdk. KHK. 913§1.
[5] Bdk. KHK. 914.
[6] Bdk. KHK. 914.
[7] Bdk. KHK. 915.
[8] Bdk. KHK. 1364.
[9] Bdk. KHK. 1367.
[10] Bdk. KHK. 1398.
[11] Bdk. KHK. 1370§1.
[12] Bdk. KHK. 1370§2.
[13] Bdk. KHK. 1373.
[14] Bdk. KHK. 1374.
[15] Bdk. KHK. 915.
[16] Bdk. KHK. 916.
[17] Bdk. KHK. 925.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here