Mengenal Sakramen Krisma dalam Gereja Katolik

0
154

SAKRAMEN KRISMA

3.1. Pengantar

Sakramen Krisma merupakan salah satu dari Sakramen-sakramen Inisiasi, yang bersama dengan Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi membentuk satu kesatuan Sakramen Inisiasi. Penerimaan Sakramen Krisma itu sangat perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja: “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan dan perbuatan.” (LG. 11).[1]

Sakramen Krisma diberikan oleh Bapak Uskup, atau Imam yang diberikan kewenangan oleh Bapak Uskup.[2] Berikut beberapa hal teknis yang perlu diketahui berkaitan dengan Sakramen Krisma, yaitu mengenai istilah yang digunakan untuk menyebut Sakramen Krisma/ Penguatan, buah-buah dari Sakramen Krisma, syarat-syarat untuk menerima Sakramen Krisma, halangan untuk menerima Sakramen Krisma, dan pencatatan penerimaan Sakramen Krisma.

3.2. Sakramen Krisma atau Sakramen Penguatan

Sakramen ini disebut Krisma, karena dalam upacara pengurapan digunakan minyak Krisma (minyak yang harum mewangi). Sakramen ini disebut Penguatan, karena menunjuk kepada “peneguhan” pembaptisan, yang dengan menerima Sakramen ini inisiasi Kristiani disempurnakan, dan memberikan penguatan pada rahmat pembaptisan.[3]

3.3. Manfaat Sakramen Krisma

Pentingnya Sakramen Krisma, selain sebagai pemenuhan Sakramen inisiasi Kristiani (Baptis, Ekaristi, dan Krisma), juga menghasilkan manfaat/ buah-buah rohani, yakni antara lain:

1) Menghasilkan pertumbuhan dan pendalaman rahmat pembaptisan, yang ditandai dengan penyatuan lebih teguh dengan Kristus, menambah karunia Roh Kudus, mengikat lebih sempurna kepada Gereja, dan menganugerahkan kekuatan khusus dari Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus.

2) Mengukir tanda rohani yang tak terhapus di dalam jiwa, yakni tanda materai Roh Kudus yang memberikan kekuatan untuk menjadi saksi Kristus.

3) Memperoleh kuasa untuk mengakui imannya kepada Kristus secara publik dengan kata-kata dan perbuatan.[4]

3.4. Syarat-syarat untuk Menerima Sakramen Krisma

Setiap orang yang sudah dibaptis dan belum menerima Krisma bisa menerima Sakramen Krisma.[5] Akan tetapi, ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi, yaitu antara lain:

1) Menyerahkan Surat Baptis dari Paroki Asal.[6]

2) Menurut Hukum Gereja usia bagi penerima Krisma adalah mereka yang sudah bisa menggunakan akal budi.[7]Kebijakan pastoral Paroki St. Maria Bunda Pengharapan, Bunut menetapkan usia minimal untuk calon peserta Krisma adalah kelas 1 SMP.

3) Para calon penerima Krisma harus mengikuti pelajaran persiapan Krisma[8], sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh pihak Paroki.

4) Para calon penerima Krisma harus menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu sebelum menerima Sakramen Krisma, agar mereka berada dalam suasana berahmat.[9]

Persyaratan lainnya menyesuaikan dengan kebijakan pastoral dari paroki setempat.

3.5. Adakah Halangan bagi Penerimaan Sakramen Krisma?

Secara umum setiap orang yang sudah dibaptis dan belum menerima Sakramen Krisma bisa menerima Sakramen Krisma. [10] Namun, dalam kasus-kasus khusus ada halangan yang membuat seseorang tidak dapat menerima Sakramen Krisma, yakni tidak terpenuhinya salah satu atau beberapa dari persyaratan penerimaan Sakramen Krisma, yang telah disebutkan di atas, maupun yang telah ditetapkan oleh paroki setempat.

3.6. Pencatatan Penerimaan Sakramen Krisma

Sama halnya dengan Penerimaan Sakramen Baptis dan Komuni Pertama, Sakramen Krisma juga harus dicatat dalam Buku Krisma (LC) di Paroki yang menyelenggarakan Upacara Krisma dan Buku Baptis (LB) Paroki Asal. Artinya, jika peserta Krisma tersebut menerima Sakramen Krisma di paroki lain, maka pihak paroki yang mengadakan Upacara Sakramen Krisma tersebut harus melaporkan penerimaan Sakramen Krisma tersebut ke paroki asal mereka yang menerima Sakramen Krisma.[11]

Oleh: Diakon Vinsensius, Pr

Editor: P. Ignatius F. Thomas, Pr

 

 

[1] Bdk. KGK. 1285.

[2] Bdk. KHK. 882.

[3] Bdk. KGK. 1289.

[4] Bdk. KGK. 1303-1305.

[5] Bdk. KHK. 889§1.

[6] Untuk mengetahui fungsi dari Surat Baptis lih. hlm. 14 dari buku ini.

[7] Bdk. KHK. 891.

[8] Bdk. KHK. 889§2, 890.

[9] Bdk. KGK. 1310.

[10] Bdk. KHK. 889§1.

[11] Bdk. KHK. 895-896.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here