Mengenal Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik

2
91

1. Perkawinan Katolik: Perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membangun suatu kebersamaan sampai seumur hidup.

2. Inti perkawinan Katolik: perjanjian suami dan istri. Isi perjanjian: suami dan istri akan saling mencintai dan hidup bersama seumur hidup dalam suka dan duka, serta dalam untung dan malang.

3. Tujuan perkawinan katolik:

a. Kesejahteraan suami dan istri: saling membahagiakan dan menyejahterakan suami dan istri. Ada relasi pribadi antara suami-istri, persekutuan jhiwa dan hati untuk saling menolong dan membantu. Maka, penting adanya cinta kasih suami-istri.

b. Kelahiran anak: suami-istri memiliki keinginan untuk memiliki anak, dan melalui usaha yang alamiah (persetubuhan).

c. Pendidikan anak secara katolik: anak harus dibaptis secara Katolik pada minggu-minggu pertama setelah kelahirannya. Anak juga harus didampingi dan dididik sesuai iman dan ajaran Katolik.
4. Perkawinan sebagai Sakramen:

a. Teologi: Sakramen adalah tanda dan sarana yang menghadirkan karya keselamatan Allah. Sebagai tanda, perkawinan katolik menunjuk kepada cinta Kristus kepada Gereja. Sebagai sarana, perkawinan katolik menjadi sarana bagi Allah untuk menyalurkan rahmat kepada keluarga katolik.

b. Yuridis: perkawinan antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang sudah dibaptis.

5. Ciri khas perkawinan Katolik:

a. Monogami: seorang laki-laki dan seorang perempuan.
b. Tak terceraikan: tidak dapat diceraikan oleh siapapun dan oleh alasan apapun, kecuali kematian alamiah.

6. Alasan perkawinan Katolik monogami dan tak terceraikan: perkawinan katolik sebagai sakramen adalah suci, karena menghadirkan cinta Kristus kepada Gereja. Cinta Kristus itu total, penuh, tidak terbatas, dan abadi. Maka, suami-istri pun harus meneladani cinta Kristus tersebut.

7. Syarat-syarat perkawinan yang sah secara Katolik:

a. Upacara perkawinan dilakukan di hadapan dua orang saksi dan seorang pastor/ diakon/ uskup.

b. Salah satu/ kedua pasangan calon suami-istri tidak terkena halangan nikah.

Halangan nikah:
1) Halangan yang bersifatilahi:
a. Impotensi (tidak mampu melakukan hubungan suami-istri dan sudah ada sebelum menikah).

b. Hubungan darah garis lurus (kakek-nenek à ayah-ibu àanak).

c. Hubungan darah menyamping tingkat kedua (kakak à adik).

d. Perceraian dari pernikahan yang sah.

Halangan yang bersifat ilahi ditetapkan oleh Tuhan, sehingga tidak dapat dibatalkan oleh manusia. Halangan tersebut bersifat mutlak.

2) Halangan yang bersifat gerejawi:

a. Halangan usia (Hukum Gereja: laki-laki minimal 16 tahun, dan perempuan minimal 14 tahun; Hukum RI: laki-laki minimal 19 tahun, dan perempuan minimal 16 tahun).

b. Beda agama (Katolik dengan Islam, Budha, Kong hu cu, Hindu; perlu dispensasi agar tidak terhalang). Lain halnya dengan perkawinan campur beda Gereja (Katolik dengan Kristen non-Katolik) harus minta izin dari Ordinaris Wilayah (dalam konteks Keuskupan Sanggau, Bapak Uskup memberikan wewenang ini kepada semua pastor di paroki).

Gereja melarang dan menghalangi perkawinan beda agama dan beda Gereja agar melindungi iman pihak Katolik dan demi pendidikan iman anak yang lahir dari perkawinan tersebut.

Syarat-syarat untuk dapat izin menikah beda Gereja:

1) Pihak Katolik harus berjanji setia pada imannya.

2) Pihak Katolik berjanji sekuat tenaga akan membaptis anaknya di Gereja Katolik dan mendidiknya secara Katolik.

3) Janji-janji pihak Katolik diberitahukan kepada pihak Kristen non-Katolik.

Syarat-syarat untukmendapat dispensasi menikah beda agama:

1) Pihak Katolik harus berjanji setia pada imannya.

2) Pihak Katolik berjanji sekuat tenaga akan membaptis anaknya di Gereja Katolik dan mendidiknya secara Katolik.

3) Janji-janji pihak Katolik diberitahukan kepada pihak yang beragama lain.

c. Penculikan.

d. Tahbisan suci (harus melalui proses laisasi agar tidak terhalang).

e. Kaul kekal publik.

f. Kejahatan (misalnya membunuh salah satu pasangan).

g. Hubungan darah menyamping tingkat 3 (om/ tante àkeponakan) dan 4 (antar sepupu).

h. Hubungan semenda (saudara/i ipar).

i. Hubungan kelayakan publik(hubungan saudara dengan pasangan yang tidak sah).

Olehkarena halangan ini dibuat oleh Gereja, maka bisa didispensasi oleh Gereja. Namun, untuk kasus halangan karena tahbisan, kaul kekal publik, dan kejahatan hanya bisa didispensasi oleh Paus (Tahta Suci). Halangan lainnya selain ketiga halangan di atas bisa didispensasi oleh Ordinaris Wilayah (dalam konteks Keuskupan Sanggau, Bapak Uskup memberikan wewenang ini kepada semua pastor di paroki).

c. Perjanjian mereka tidak cacat. Perjanjian yang sah harus dibuat secara bebas, penuh, dan sungguh-sungguh. Perjanjian yang tidak sah atau perjanjian yang cacat disebabkan oleh:

i. Salah satu atau kedua calon suami-istri tidak mampu menggunakan akal budi secukupnya.

ii. Salah satu atau kedua calon suami-istri tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajiban dasar sebagai suami-istri.

iii. Menikah tetapi keliru orangnya.

iv. Menikah karena tertipu (sifat/ materi).

v. Menikah karena takut dan dipaksa orang lain.

vi. Pura-pura menikah.

vii. Menikah bersyarat.

8. Tahap-tahap perkawinan:

a. Kursus persiapan perkawinan.

b. Mendaftarkan perkawinan di kantor paroki dengan menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan: surat baptis terbaru, surat pengantar dari pemimpin umat/ ketua kring, dan sertifikat kursus persiapan perkawinan.

c. Mengadakan penyelidikan kanonik dengan pastor paroki (neken).

d. Pemberkatan nikah secara Katolik.

e. Mengurus buku keluarga dan surat nikah.

 

Oleh: Pastor Vinsensius

Editor: Pastor Ignatius F. Thomas

 

 

Sumber bacaan: Silvester Susianto Budi, MSF, Kupas Tuntas Perkawinan Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2015.

2 KOMENTAR

  1. Mo… saya butuh bantuan..
    Saya ingin mengutarakan sesuatu hal tapi saya takut.
    Krna ada paksaan dalam pernikahan yg akan dilangsungkan desember 2018 nanti di paroki wonogiri.
    Alasan utama krna pihak laki” menghamili pihak peremphan keluarga perempuan memaksa untuk dinikahi scra katolik. Dgn persyaratan gpp 1 bulan setelah itu ditinggal dan ga dinafkahi.
    Bukan tidak mau bertanggungjawab tapi menikah secara katolik sesuatu yg sakral. Terlebih skrg bayi tersebut sudah keguguran jadi dampak dri pernikahan karena dipaksakan itu nantinya seperti apa? Cerai pun jadi pemikiran pertama! Terlebih mempelai pria semakin benci krna semuanya dipaksa.
    Apakah bisa gereja dibohongi seperti ini?
    Jujur romo saya tunangan dari pria saya melihat kondisi psikis pria yg skrg ini terpuruk sekali sya tau dia menyesal tpi apakah dgn seperti ini, apa tidak malah semakin brutal dia nanti pasca pernikahan. Krna skrg saja dia sudah kehilangan Tuhan.
    Mohon pencerahan romo…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here