Menyelami Rahmat Tahbisan Diakon

0
65

1. Mengapa Sakramen Tahbisan dimasukkan ke dalam kelompok Sakramen-sakramen Pelayanan untuk Persekutuan?

Karena bersama dengan Sakramen Perkawinan, Sakramen Tahbisan diarahkan kepada keselamatan orang lain, dan diri sendiri. Kedua Sakramen ini memberikan perutusan khusus di dalam Gereja dan berguna untuk pembangunan umat Allah.[1]

2. Apa hubungan antara Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan?

Melalui Sakramen Tahbisan, seorang Klerus mendapat tugas khusus untuk menggembalakan Gereja dengan Sabda dan rahmat Allah. Sedangkan dengan Sakramen Perkawinan, suami istri Katolik dikuatkan dan bagaikan “ditahbiskan” untuk tugas kewajiban maupun martabat status hidup mereka.[2]

3. Apa itu Sakramen Tahbisan?

Sakramen tahbisan merupakan sakramen yang olehnya perutusan  yang dipercayakan Kristus kepada Rasul-rasul-Nya, dilanjutkan di dalam Gereja sampai akhir zaman. Dengan demikian ia adalah Sakramen pelayanan apostolik, yang mencakup tiga tahap: episkopat, presbirat, dan diakonat.[3]

4. Mengapa Sakramen Tahbisan disebut “ordinasi”?

  1. Dalam kebudayaan Roma klasik, kata ordo dipakai untuk lembaga-lembaga sipil, terutama lembaga pemerintah. “Ordinasi” berarti penggabungan di dalam satu “ordo”. Dalam liturgi dikenal istilah “ordo episcoporum”, “ordo presbyterorum”, dan “ordodiaconorum”. Penggabungan ke dalam salah satu golongan Gereja ini terjadi dalam satu ritus, yang dinamakan ordinatio, satu tindakan liturgis dan religius yang merupakan satu tahbisan, satu pemberkatan, atau satu Sakramen. Ordinatio juga dinamakan tahbisan (consecratio), karena ia terdiri dari pemilihan dan pengangkatan yang dilakukan Kristus sendiri demi pelayanan dalam Gereja.[4]

5. Siapa yang menetapkan Sakramen Tahbisan?

Kristus telah memilih para Rasul dan  memberi mereka bagian dalam perutusan dan kekuasaan-Nya. Setelah naik ke surga, Ia selalu menjaga kawanan-Nya melalui perantaraan para Rasul dan para penggantinya. Jadi, Kristuslah yang memberikan kepada yang satu tugas rasul dan kepada yang lain tugas gembala. Ia tetap bertindak dengan perantaraan para Uskup.[5]

6. Siapa yang dapat memberikan Sakramen Tahbisan?

Hanya Uskup yang telah ditahbiskan.[6] Untuk Diakon Diosesan hendaknya ditahbiskan oleh Uskupnya sendiri, atau dengan surat dimisoria yang legitim darinya.[7]

7. Mengapa hanya Uskup yang dapat memberikan Sakramen Tahbisan?

Karena Sakramen Tahbisan adalah Sakramen Apotolik, maka para Uskup sebagai pengganti para Rasul yang berhak melanjutkan anugerah rohani dan benih rasuli ini.[8]

8. Siapakah Diakon itu?

Pejabat yang ditahbiskan untuk melaksanakan tugas dalam pelayanan Gereja. Mereka tidak menerima imamat jabatan, tetapi Tahbisan memberikan kepada mereka tugas-tugas penting dalam pelayanan sabda, liturgi, karya pastoral dan karitiatif. Mereka harus melaksanakan tugas-tugas ini di bawah bimbingan pastoral Uskupnya.[9]

9. Apa peranan Tahbisan Diakon dalam Sakramen Tahbisan?

Diakonat mempunyai tugas untuk membantu dan melayani episkopat dan presbiterat. Ketiga jenjang tahbisan ini diterimakan oleh satu kegiatan sakramental, yang dinamakan penahbisan, artinya melalui Sakramen Tahbisan.[10]

10. Apa tujuan dari Tahbisan Diakon?

“Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diaken, yang ditumpangi tangan, bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG. 29).[11]

11. Apa yang terjadi saat tahbisan?

Dengan diterimanya Sakramen Tahbisan, seorang menjadi pelayan suci, yang ditandai oleh meterai yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk menggembalakan umat Allah, dengan mengemban Tritugas Kristus, masing-masing menurut tingkatannya (Uskup, Imam, dan Diakon).[12]

12. Bagaimana upacara tahbisan itu dilaksanakan?

Tahbisan diberikan dengan cara penumpangan tangan dan doa tahbisan, yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi untuk masing-masing tingkatan.[13]

13. Apa ritus hakiki dari Sakramen Tahbisan?

Penumpangan tangan Uskup ke atas calon Tahbisan dan doa Tahbisan yang memohon pencurahan Roh Kudus dan anugerah-anugerah rahmat khusus untuk pelayanan.[14]

14. Apa ritus tambahan dari Sakramen Tahbisan Diakon?

(1) Ritus Pembuka: pengusulan dan pilihan calon Tahbisan, wejangan Uskup, tanya kesediaan calon Tahbisan, litani orang kudus.

(2) Penerimaan Kitab Suci, menyimbolkan perutusan untuk mewartaan Injil Kristus.[15]

15. Apa tanda-tanda kelihatan dari konsekrasi dalam Sakramen Tahbisan?

Peletakan tangan oleh Uskup dan doa tahbisan.[16]

16. Apa yang ingin diungkapkan melalui penumpangan tangan Uskup pada waktu Tahbisan Diakon?

Diakon yang ditumpangi tangan bergabung dengan Uskupnya, terutama dalam tugas-tugas pelayanan cinta persaudaraan.[17]

17. Apa buah-buah Sakramen Tahbisan?

(1) Meterai yang tak terhapuskan. Meterai ini adalah rahmat Roh Kudus yang membuat penerima serupa dengan Kristus, supaya ia sebagai alat Kristus melayani Gereja-Nya. Dengan demikian, ia dapat bertindak sebagai wakil Kristus, Kepala, dalam ketiga fungsi-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Meterai ini tak terhapuskan, tak dapat diulangi, atau dikembalikan.[18]

(2) Rahmat Roh Kudus mengaruniakan kepada orang yang ditahbiskan keserupaan dengan Kristus, Imam, Guru, dan Gembala, yang harus ia layani. Secara khusus kepada para Diakon, rahmat sakramental memberikan kekuataan untuk mengabdikan diri kepda umat Allah dalam pelayanan Liturgi, Sabda, dan amal kasih, dalam persekutuan dengan Uskup dan para imamnya.

18. Apa buah-buah dari Tahbisan Diakon?

(1) Seorang Diakon mengambil bagian dalam perutusan dan rahmat Kristus dengan cara yang khusus.

(2) Sakramen Tahbisan mengukir satu meterai yang tak dapat dihilangkan dan membuat mereka serupa dengan Yesus, yang telah menjadi pelayan bagi semua orang.[19]

19. Apa saja tugas pelayanan seorang Diakon?

(1) Membantu Uskup dan imam dalam perayaan rahasia-rahasia ilahi, terutama Ekaristi.[20]

(2) Menjadi Pelayan biasa dalam membagikan Komuni Suci.[21]

(3) Mengantar Komuni Bekal Suci kepada mereka yang mendekati ajalnya.[22]

(4) Menjadi Pelayan biasa dalam memberikan Sakramen Baptis.[23]

(5) Menjadi Pelayan biasa yang meneguhkan Sakramen Perkawinan.[24]

(6) Mengabdi umat Allah dalam pelayanan Sabda, dalam persatuan dengan Uskup dan para imam.[25]

(7) Membacakan Injil dan memberikan kotbah/ homili yang isinya menjelaskan misteri-misteri iman dan norma-norma hidup kristiani.[26]

(8) Mengajar dan menasihati umat.[27]

(9) Memimpin ibadat dan doa kaum beriman.[28]

(10) Menjadi pelayan sakramentali, dan memberikan berkat sesuai dengan norma hukum yang mengizinkannya.[29]

(11) Memimpin upacara pemakaman.[30]

(12) Mengabdikan diri kepada berbagai bentuk pelayanan karitatif.[31]

(13) Memimpin secara sah, atas nama Pastor Paroki dan Uskup, dalam menggerakkan umat.

(14) Mempromisikan dan menghidupkan aktivitas apostolik kaum awam.[32]

20. Apa saja tugas Diakon dalam Ekaristi?

(1) Membacakan Injil dan membawakan homili.

(2) Menyiapkan persembahan, yaitu: menempatkan korporal, patena, sibori, dan mengisi anggur dan air ke dalam piala.

(3) Berlutut selama konsekrasi sampai evalasi piala.

(4) Mengangkat piala saat doksologi.

(5) Membagikan Komuni.

(6) Membersihkan bejana-bejana suci.

(7) Mengucapkan perutusan di akhir Misa.[33]

21. Apa seorang Diakon wajib mendoakan Ibadat Harian?

Ya, wajib, demi mengejar kekudusan hidupnya sebagai pelayan suci. Ibadat harus dilaksanakan sesuai dengan waktunya.[34]

22. Kapan sebaiknya tahbisan itu dillaksanakan?

Tahbisan dirayakan dalam Misa meriah pada hari Minggu atau hari raya wajib. Namun, karena alasan pastoral dapat juga dilaksanakan pada hari biasa.[35]

23. Di mana sebaiknya tahbisan itu dillaksanakan?

Pada umumnya di Gereja Katedral. Namun, karena alasan pastoral dapat juga dilaksanakan di gereja atau ruang doa lainnya.[36]

24. Siapa yang harus diundang pada waktu tahbisan?

Para Klerus dan umat beriman.[37]

25. Apa saja pakaian liturgi seorang Diakon?

(1) Alba: pakaian putih sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” berasal dari bahasa Latin, yang artinya “putih”. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan Diakon akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya, guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup, dan martabat Kristiani.

(2) Singel: tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan/ merapikan alba. Singel melambangkan kemurnian hati dan pengekangan diri.

(3) Stola Diakon: dikenakan oleh Diakon dengan cara menyilangkannya dari pundak kiri ke pinggang kanan. Stola merupakan tanda jabatan Diakonat, yang diterima seorang Diakon pada waktu Tahbisannya. Warna Stola Diakon menyesuaikan warna liturgi yang dirayakan pada waktu itu.

(4) Dalmatik: busana resmi Diakon pada waktu perayaan liturgi. Bentuknya mirip Kasula, tetapi ujungnya dibuat persegi, dan motif hiasannya berupa garis-garis salib besar. Dalmatik dikenakan setelah Stola Diakon. Dalmatik dikenakan tatkala Diakon bertugas melayani dalam Misa agung/ meriah. Kalau perayaan liturgi kurang meriah, Diakon tidak harus mengenakan Dalmatik. Dalmatik melambangkan sukacita dan kebahagiaan yang merupakan buah-buah dari pengabdiannya kepada Allah. Warna Dalmatik menyesuaikan warna liturgi yang dirayakan pada waktu itu.[38]

26. Apa spiritualitas seorang Diakon?

Spiritualitas seorang Diakon adalah pelayanan. Dalam Sacrum Diaconatus Ordinem, Bapa Suci menegaskan “Hendaknya Diakon, yang melayani misteri Kristus dan Gereja, menjauhi diri dari semua kejahatan dan selalu memuji Allah, siap untuk setiap perbuatan baik, demi keselamatan manusia.” Berikut beberapa usaha yang harus dilakukan oleh Diakon dalam menghidupi spiritualitasnya:

(1) Membaktikan diri kepada pembacaan dan permenungan sabda Allah.

(2) Secara sering, dan jika memungkinkan setiap hari berpartisipasi secara aktif dalam kurban Misa, menerima Sakramen Ekaristi yang Mahakudus, dan berdevosi kepada-Nya melalui kunjungan kepada Sakramen Mahakudus.

(3) Memurnikan hati dengan menerima Sakramen Tobat secara teratur, dan supaya menerimanya secara pantas, memeriksa hati nurani setiap hari.

(4) Berbakti dan mencintai Santa Perawan Maria, Bunda Allah dengan devosi.[39]

27. Apa artinya panggilan dalam Sakramen Tahbisan?

Sakramen Tahbisan merupakan panggilan dari Allah. Tak seorang pun yang berhak untuk menerima Sakramen Tahbisan, atau merebut tugas ini bagi dirinya. Maka, ia harus dipanggil oleh Allah. Sakramen Tahbisan hanya dapat diterima sebagai anugerah secara cuma-cuma.[40]

28. Apa yang harus dilakukan oleh seorang yang dipanggil Tuhan menjadi imam?

Siapa yang beranggapan melihat tanda-tanda bahwa Allah memanggilnya untuk pelayanan sebagai orang yang ditahbiskan, harus menyampaikan kerinduannya itu dengan rendah hati kepada otoritas Gereja, yang mempunyai tanggung jawab dan hak untuk mengizinkan seseorang menerima Tahbisan.[41]

29. Apa syarat utama demi sahnya Tahbisan?

Calon tahbisan harus pria Katolik.[42]

30. Mengapa hanya laki-laki yang dapat menerima Tahbisan?

Tuhan Yesus telah memilih pria-pria untuk membentuk kelompok kedua belas Rasul. Para Rasul pun melakukan hal yang sama, ketika mereka memilih rekan kerja, yang akan menggantikan mereka dalam tugasnya. Dewan para Uskup yang dengannya para imam bersatu dalam imamat, menghadirkan dewan kedua belas Rasul sampai Kristus datang kembali. Gereja menganggap diri terikat pada pilihan ini, yang telah dilakukan Tuhan sendiri. Karena itu, tidak mungkin menahbiskan seorang wanita.[43]

31. Apa syarat-syarat demi licit[44]nya tahbisan?

(1) Menjalani masa probasi menurut norma hukum.

(2) Memiliki kualitas-kualitas yang semestinya.

(3) Tidak terkena halangan irregularitas dan halangan lainnya.

(4) Telah memenuhi syarat-syarat tahbisan.

(5) Memiliki dokumen-dokumen yang dibutuhkan.

(6) Telah menjalani penyelidikan kualitatif.

(7) Dinilai bermanfaat bagi pelayanan Gereja.[45]

32. Apa saja yang dituntut dari diri calon tahbisan?

(1) Kebebasan untuk ditahbiskan, tanpa paksaan dari pihak mana pun.[46]

(2) Menjalani pembinaan sebagai persiapan tahbisan, menurut norma hukum.[47]

(3) Mempelajari dengan baik hal-hal yang berkaitan dengan tahbisan dan kewajiban-kewajibannya.[48]

(4) Memiliki iman yang teguh, maksud yang benar, pengetahuan yang semestinya, nama baik, integritas moral, keutamaan-keutamaan yang teruji, dan kualitas lainnya, baik fisik maupun psikis.[49]

(5) Untuk tahbisan diakon, minimal berusia 23 tahun. Tenggang waktu antara tahbisan Diakon dan Imam minimal 6 bulan.[50]  KWI berhak penuh menentukan umur yang lebih tinggi dari ketentuan KHK.[51] Sedangkan dispensasi melebihi 1 tahun direservasi bagi Tahta Suci.[52]

(6) Untuk Tahbisan Diakon minimal tahun kelima studi filsafat-teologi.[53]

(7) Sesudah menyelesaikan studi, mengambil bagian dalam reksa pastoral, dan melaksanakan tugas diakonatnya selama waktu yang layak.[54]

33. Apa saja syarat untuk Tahbisan?

(1) Telah menerima Sakramen Krisma.[55]

(2) Telah menerima pelantikan Lektor dan Akolit, dan telah melaksanakannya minimal 6 bulan sebelum Tahbisan.[56]

(3) Menyerahkan surat lamaran dengan tulisan tangan dan ditandatangani sendiri. Isinya ialah pernyataan bahwa ia secara sukarela dan bebas akan menerima Tahbisan suci, dan akan menyerahkan diri bagi pelayanan gerejawi untuk selamanya, serta meminta agar ia diizinkan untuk menerima Tahbisan.[57]

(4) Menerima kewajiban selibat secara publik di hadapan Allah dan Gereja dalam upacara Tahbisan.[58]

(5) Melakukan retret persiapan Tahbisan minimal 5 hari.[59]

34. Apa makna Selibat bagi seorang Klerus?

(1) Pengabdian diri kepada Tuhan dan tugas-Nya secara tidak terbagi.

(2) Penyerahan diri yang penuh kepada Tuhan dan sesama.

(3) Tanda hidup baru yang demi pelayanannya ditahbiskan pelayan Gereja.

(4) Tanda kehadiran Kerajaan Allah, yang harus diterima dengan hati gembira.[60]

35. Apa saja dokumen yang diperlukan sebagai syarat Tahbisan Diakon?

(1) Surat keterangan mengenai studi filsafat dan teologi yang telah ditempuh dengan baik.

(2) Surat keterangan baptis dan penguatan, serta pelantikan Lektor dan Akolit.

(3) Surat lamaran Tahbisan.[61]

36. Dokumen apa saja yang dibutuhkan demi menjamin kualitas-kualitas yang dituntut dari calon Tahbisan?

(1) Surat keterangan dari rektor seminari mengenai ajaran yang benar dari si calon, kesalehan yang sejati, moral yang baik, kecakapan untuk melaksanakan pelayanan, dan surat keterangan tentang kesehatan fisik dan psikis.

(2) Uskup dapat menggunakan sarana-sarana lain yang berguna menurut waktu dan tempat, agar dapat melakukan penyelidikan dengan baik.[62]

37. Apa saja hak Uskup dalam menyelidiki calon Tahbisan?

(1) Memastikan bahwa dokumen-dokumen yang diperlukan untuk syarat Tahbisan sungguh ada, dan yakin akan kecakapan calon telah teruji dengan argumen-argumen yang positif.

(2) Walaupun semua dokumen sudah lengkap, jika Uskup masih meragukan kecakapan calon, maka Tahbisan dapat dibatalkan.[63]

38. Bagaimana dengan pencatatan bagi Klerus yang telah ditahbiskan?

NamaKlerus yang telah ditahbiskan dan Uskup yang menahbiskan, tempat dan tanggal Tahbisan, harus dicatat dalam buku khusus di kuria tempat Tahbisan dan Buku Baptis di Paroki tempat ia dibaptis. Demikian pula semua dokumen Tahbisan harus disimpan dengan baik.[64]

39. Apa bukti positif yang harus diterima oleh Klerus setelah Tahbisannya?

Suratketerangan otentik dari Uskup mengenai Tahbisan yang telah diterimanya.[65]

 

Oleh: P. Vinsensius, Pr

 

[1] Bdk. KGK. 1534.

[2] Bdk. KGK. 1535.

[3] Bdk. KGK. 1536.

[4] Bdk. KGK. 1537-1538.

[5] Bdk. KGK. 1575.

[6] Bdk. KHK. 1012.

[7] Bdk. KHK. 1015§1.

[8] Bdk. KGK. 1576.

[9] Bdk. KGK. 1596.

[10] Bdk. KGK. 1554.

[11] Bdk. KGK. 1569.

[12] Bdk. KHK. 1008-1009§1.

[13] Bdk. KHK. 1009§2.

[14] Bdk. KGK. 1573.

[15] Bdk. KGK. 1574.

[16] Bdk. KGK. 1538.

[17] Bdk. KGK. 1569.

[18] Bdk. KGK. 1581-1582.

[19] Bdk. KGK. 1570.

[20] Bdk. KGK. 1570.

[21] Bdk. KHK. 910§1.

[22] Bdk. LG. 29.

[23] Bdk. KHK. 861§1.

[24] Bdk. KHK. 1108§1.

[25] Bdk. KHK. 757.

[26] Bdk. KGK. 1570, KHK. 764, dan 767§1.

[27] Bdk. LG. 29.

[28] Bdk. LG. 29.

[29] Bdk. KHK. 1168, dan 1169§3.

[30] Bdk. KGK. 1570.

[31] Bdk. KGK. 1570.

[32] Poin 13-14, bdk. Sacrum Diaconatus Ordinem, www.vatican.va

[33] Bdk. tradisikatolik.blogspot.com

[34] Bdk. KHK. 1174§1, dan 1175.

[35] Bdk. KHK. 1010.

[36] Bdk. KHK. 1011§1.

[37] Bdk. KHK. 1011§2.

[38] www.indocell.net/yesaya.com

[39] bdk. Sacrum Diaconatus Ordinem,www.vatican.va

[40] Bdk. KGK. 1578.

[41] Bdk. KGK. 1578.

[42] Bdk. KHK. 1024.

[43] Bdk. KGK. 1577.

[44] Halal.

[45] Poin 1-7 bdk. KHK. 1025§1-2.

[46] Bdk. KHK. 1026.

[47] Bdk. KHK. 1027.

[48] Bdk. KHK. 1028.

[49] Bdk. KHK. 1029.

[50] Bdk. KHK. 1031§1.

[51] Bdk. KHK. 1031§3.

[52] Bdk. KHK. 1031§4.

[53] Bdk. KHK. 1032§1.

[54] Bdk. KHK. 1032§2.

[55] Bdk. KHK. 1033.

[56] Bdk. KHK. 1035§1-2.

[57] Bdk. KHK. 1036.

[58] Bdk. KHK. 1037.

[59] Bdk. KHK. 1039.

[60] Bdk. KGK. 1579.

[61] Poin 1-3 Bdk. KHK. 1050.

[62] Poin 1-2 Bdk. KHK. 1051.

[63] Poin 1-2 Bdk. KHK. 1052§1,3.

[64] Bdk. KHK. 1053§1, dan 1054.

[65] Bdk. KHK. 1053§2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here