Panggilan Perutusan

0
38

Renungan Minggu Biasa XV, Tahun B, 15 Juli 2018
(Injil Mrk 6:7-13)

Pengantar

Setiap panggilan pasti ada tujuannya. Tidak mungkin kita memanggil orang, tanpa tujuan apa-apa. Sekalipun orang itu hanya “miscall” saja, tetap ada tujuannya. Demikian pula dengan Tuhan Yesus, yang memanggil para murid-Nya. Ada suatu tujuan tertentu dari panggilan menjadi murid-murid Kristus. Dan tujuan dari panggilan itulah yang akan kita renungkan pada hari ini.

Teologi

Injil hari ini mau menampilkan kepada kita: panggilan dan perutusan murid-murid Yesus. Panggilan menjadi murid-murid Yesus sungguh berasal dari Yesus sendiri. Yesus-lah yang memanggil para murid-Nya. Yesus memanggil mereka untuk diutus mewartakan Kerajaan Allah. Jadi, panggilan para murid adalah panggilan perutusan.

Sebelum Yesus mengutus para murid-Nya, Yesus memberikan kuasa kepada mereka, dan juga pesan-pesan kepada mereka. Yesus memberikan kepada para murid-Nya: kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Selain itu, Yesus juga memberikan pesan yang panjang. Intinya, supaya para murid tidak tergantung pada hal-hal duniawi, dan harus selalu siap kalau ditolak, seperti Tuhan Yesus sendiri.

Maka, para murid dengan penuh semangat menjalankan tugas perutusan mereka. Pertama-tama, para murid mewartakan tentang pertobatan. Dan setelah itu, mereka mengusir banyak setan dan menyembuhkan banyak orang sakit. Inilah wujud nyata dari kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini, yang telah dimulai oleh Yesus dan diteruskan oleh para murid-Nya.

Profetis

Panggilan kita menjadi murid-murid Kristus di zaman sekarang ini, sungguh berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus-lah yang telah memanggil kita untuk menjadi murid-murid-Nya, melalui orang tua kita, sanak saudara kita, sahabat kita, maupun melalui peristiwa-peristiwa hidup yang pernah kita alami. Itulah yang pertama-tama perlu kita sadari! Kita menjadi Katolik bukan sekedar ikut-ikutan atau meneruskan agama orang tua kita, tetapi sungguh-sungguh dipanggil oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menjadi murid-Nya.

Panggilan kita menjadi murid-murid Kristus merupakan panggilan perutusan. Kita dipanggil, agar kita diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Ketika dibaptis, dan teristimewa ketika kita menerima Krisma, kita telah diberikan kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia. Karunia-karunia Roh Kudus yang kita terima itulah yang memampukan kita untuk melaksanakan karya perutusan ini.

Maka, demi meneruskan karya Tuhan Yesus dan kedua belas murid-Nya, kita semua diutus pertama-tama untuk mewartakan pertobatan. Warta pertobatan ini berlaku untuk kita sendiri dan juga orang-orang lain yang menerima pewartaan kita. Hanya dengan bertobat, maka kita dapat mengalahkan kuasa roh-roh jahat yang ada di dalam diri kita sendiri dan yang ada di sekitar kita. Roh jahat itu bukan hanya roh yang sifatnya horror atau magic, tetapi roh jahat juga ada dalam perbuatan-perbuatan jahat yang kita lakukan terhadap sesama, seperti ketidakadilan, kecurangan, penindasan, dan lain-lain. Jadi, pertobatan berarti perubahan hidup, yang mencakup: perilaku, sikap dan tindakan dari yang buruk atau jahat menjadi perilaku, sikap dan tindakan yang baik, benar, dan berkenan kepada Allah.  Dan Sakramen Tobat menjadi wujud nyata dan awal dari pertobatan yang sejati, sebab di dalam Sakramen ini ada penyesalan atas dosa dan niat untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang baru. Pertanyaan bagi kita: seberapa sering kita menerima Sakramen Tobat? Atau kapan terakhir kita menerima Sakramen Tobat?

Selain diutus untuk mengalahkan kuasa jahat, kita juga diutus untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit. Berbagai cara dapat kita lakukan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, misalnya melalui perhatian kita, kunjungan kita, doa-doa kita, dan juga berbagai bantuan materi yang kita berikan kepada mereka. Intinya, kita harus mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap orang-orang sakit, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan bagi kita: apakah kita sudah peduli kepada orang-orang sakit yang ada di sekitar kita? Ketika ada anggota keluarga kita yang sakit sudahkah kita memberikan bantuan jasmani dan rohani bagi mereka?

Banyak orang yang takut memanggil Pastor ketika anggota keluarganya sakit parah untuk diolesi minyak suci, karena takut kalau sudah diolesi, terus si sakit lalu meninggal dunia. Ini adalah pemahaman iman yang salah dan keliru! Jelas, bahwa dalam Injil Tuhan Yesus memerintahkan para rasul untuk mengolesi banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. Artinya, Sakramen Pengurapan orang sakit bertujuan untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Lebih tepatnya, dengan memberikan perminyakan orang sakit, kita menyerahkan orang yang sakit itu kepada pemeliharaan Tuhan. Biarlah Tuhan sendiri yang bertindak dan berkehendak atas orang yang sakit itu. Bila Tuhan berkenan, maka Tuhan akan menyembuhkan dia dari sakitnya. Tetapi, jika Tuhan berkehendak lain, yaitu memanggilnya untuk kembali ke hadirat-Nya, maka ia akan meninggal dalam keadaan yang siap, sebab dosa-dosanya sudah dihapuskan melalui Sakramen Pengurapan, dan ia sudah disucikan, sehingga dapat cepat masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Marilah kita memohon rahmat Allah, agar kita dapat menjalankan tugas perutusan kita di dunia ini sebagai murid-murid Kristus. Semoga kita dapat mengalami pertobatan dan juga mewartakan pertobatan. Dan semoga kita juga mempunyai hati terhadap saudara-saudari kita, terutama mereka yang sakit dan menderita. Marilah kita hening sejenak untuk merenungkan sabda Tuhan yang telah kita dengarkan hari ini.

 

Penulis: P. Vinsensius, Pr

(Pastor Rekan Paroki “Kristus Raja” Sosok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here