Sekilas Panduan Menjadi Seorang Lektor

0
36

1. Arti Lektor

Kata “Lektor” berasal dari bahasa Latin, yaitu lector (kata benda), atau lectere (kata kerja), yang artinya membacakan. Ada tiga jenis lektor dalam Gereja Katolik, yaitu: (1) Petugas pria awam yang dilantik secara tetap oleh Uskup untuk membacakan Kitab Suci kepada umat, (2) Umat awam, baik laki-laki maupun perempuan, yang ditugasi membacakan Kitab Suci dalam perayaan liturgi, dan (3) Calon imam yang dilantik untuk membacakan Kitab Suci dalam Misa, sebelum ditahbiskan.

Kriteria Membacakan Kitab Suci yang baik: (1) bisa ditangkap dengan telinga, (2) dipahami dengan akal, dan (3) diresapkan ke dalam hati.

2. Syarat menjadi lektor

(1) Punya kemauan untuk bertugas, berlatih, dan berkembang dalam iman.

(2) Memiliki kemampuan untuk membacakan, mengerti, dan mengimani isi Kitab Suci.

(3) Siap mendapat masukan, kritik, evaluasi, dan perbaikan-perbiakan yang membangun, bahkan tanggapan dan komentar yang sinis. Harus ada kerendahan hati dan keterbukaan hati untuk mendengar semuanya itu dan memperbaiki diri.

(4) Berusaha mencintai Kitab Suci.

3. Tahap Persiapan:

Persiapan jangka panjang:

A. Tujuh Tahap membaca Kitab Suci:

(1) Berdoa

Memohon bimbingan Roh Kudus agar kita dapat memahami Sabda Tuhan.

(2) Membaca teks Kitab Suci

Membaca teks Kitab Suci di dalam hati berulang-ulang kali.

(3) Mempelajari isi Kitab Suci

a. Jenis teks: narasi/cerita, nasehat, peringatan, penghiburan, seruan/ajakan, perintah, petunjuk, atau puisi.

b. Tokoh-tokoh dalam teks Kitab Suci.

c. Situasi dan suasana yang digambarkan dalam Bacaan Kitab Suci: sedih, gembira, marah, bersyukur, dll.

(4) Merenungkan isi Kitab Suci.

Dalam keheningan merenungkan seluruh isi Kitab Suci yang sudah dibaca dan dipelajari, agar meresap ke dalam hati.

(5) Mencari pesan Kitab Suci

Mencari satu pesan dari teks Kitab Suci untuk kehidupan kita sehari-hari: Apa yang Tuhan inginkan agar kita perbuat?

(6) Sharing iman.

Kalau dilakukan bersama, dapat diadakan sharing iman atau berbagi pengalaman iman berdasarkan teks Kitab Suci.

(7) Menyatukan semua permenungkan dalam doa.

Menyampaikan syukur kepada Allah, dan memohon rahmat-Nya, agar dapat melaksanakan Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Olah Vokal:

(1) Artikulasi

Kejelasan dalam mengucapkan kata per kata. Misalnya: “berkata” bukan “bekata”, “siapa” bukan “sapa”, dst. Membaca dengan lambat akan membantu kita untuk mengucapkan kata dengan jelas.

(2) Intonasi

Tinggi rendahnya nada suara, mencakup: arsis (kalimat yanga tekanan terakhirnya dinaikkan) dan thesis (kalimat yang tekanan terakhirnya diturunkan).

(3) Power

Ketika menggunakan mix, seorang lektor harus: (a) menyesuaikan kekuatan suaranya dengan kekuatan suara mix, (b) mengatur jarak mulut dengan mix, agar tidak terlalu keras atau kecil, dan tidak berdengung. (c) jangan sampai menggunakan echo (gema suara).

(4) Pause

Butuh jeda sedikit pada setiap alinea dan sebelum mengakhiri bacaan Kitab Suci.

(5) Frasering

Harus memperhatikan pengelompokan kata yang belum menjadi kalimat, termasuk juga pemenggalan kata dalam kalimat yang panjang. Salah pemenggalan bisa salah artinya. Cth: Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel,… (Kis. 5:34), atau banyak orang berbondong-   bondong mengikuti Yesus.

(6) Penjiwaan

Bisa membedakan suara pencerita, dan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam teks Kitab Suci.

Persiapan jangka pendek:

(1) Persiapan batin: Mengatur pernafasan, berdoa, bermeditasi dan mencapai ketenangan.

(2) Persiapan fisik:

Pakaian: bersih, sopan, dan rapi. Pakaian bebas yang digunakan untuk pria: kemeja dan celana panjang, dan untuk perempuan: kemeja/baju berlengan, rok yang panjangnya minimal di bawah lutut, atau gaun yang layak. Bila berjubah, harus memperlakukan jubah dengan baik dan benar.

4. Sikap Liturgis Lektor

(1) Perarakan

Biasanya lektor ikut perarakan bersama imam dan misdinar. Maka harus diperhatikan cara berjalan yang tenang dan sikap tangan yang benar (dikatupkan).

(2) Sikap duduk/berdiri

Duduk dengan kedua telapak kaki menginjak ke lantai, dengan tangan sikap berdoa. Berdiri dengan badan dan kaki yang tegap, dengan tangan sikap berdoa.

(3) Saat maju ke Mimbar

Para lektor dan pemazmur bisa maju bersama, kemudian mereka menyembah di depan altar (berlutut dengan kaki kanan), dan menuju ke Mimbar. Sementara petugas yang satu bertugas, petugas yang lain menunggu di belakangnya dengan posisi menghadap ke altar.

(4) Saat di Mimbar

Berdiri dengan badan dan kaki yang tegap, dan tangan memegang Kitab Suci, yang menandakan kesatuan antara pembaca dan apa yang dibacakan. Membacakan Kitab Suci dengan baik dan benar (sesuai olah vokal di atas). Sekali-kali lektor perlu mengadakan kontak mata dengan umat.

a. Tema Bacaan

Bacaan I atau II tidak perlu dibacakan, sebab otomatis orang sudah tahu hal itu. Langsung saja membacakan temanya, misalnya “Allah melihat semua yang telah dijadikannya baik adanya.”

b. Membacakan sumber bacaan dengan benar

Misal: Kej 1:1-2:1 à Bacaan diambil dari Kitab Kejadian (bab dan ayat tidak perlu dibacakan, karena umat tidak mungkin membuka Kitab Suci saat itu untuk mengetahui sumbernya).

1 Tawarikh 9:35-44 à Bacaan diambil dari Kitab pertama Tawarikh.

II Kor. 4:1-15 à Bacaan dari Surat Rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus.

c. Membacakan Sabda Tuhan dengan baik dan benar (lihat Olah Vokal di atas).

(5) Saat kembali ke tempat duduk

Para lektor dan pemazmur maju bersama, kemudian mereka menyembah di depan altar (berlutut dengan kaki kanan), dan menuju ke tempat duduk semula.

 

Penulis: P. Vinsensius, Pr

Editor: P. Ignatius F. Thomas, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here