Yesus membuat mukjizat pada perkawinan di Kana

0
207

Renungan Minggu Biasa II Tahun C
(Bacaan: Yes 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-12)

Apa yang Ia katakan, lakukanlah itu!

Saudara-saudari terkasih, kita semua tentu tidak mau mengalami kekurangan. Apalagi kekurangan itu terjadi pada saat-saat yang penting dalam hidup kita. Injil pada hari ini mengisahkan kepada kita kekurangan anggur yang terjadi saat pesta perkawinan di Kana. Tentu saja kejadian ini akan menjadi sesuatu yang memalukan bagi pihak keluarga mempelai, jika mereka tidak bisa menyediakan anggur yang cukup dalam pesta tersebut. Namun, kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membuat anggur itu menjadi cukup dan tidak berkekurangan sama sekali. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Marilah sejenak kita merenungkan kisah tentang Mukjizat Yesus yang pertama kali ini.

Dalam sebuah pesta perkawinan di Kana, yang dihadiri oleh Bunda Maria, Yesus dan para murid-Nya, terjadi suatu masalah, yaitu kekurangan anggur. Di tengah kebingungan dan masalah kekurangan anggur ini, Bunda Maria mengambil inisiatif untuk meminta Yesus melakukan sesuatu bagi mereka. Walaupun awalnya, Yesus menolak untuk melakukan sesuatu, karena “Saat-Nya” belum tiba, namun akhirnya Ia mau juga melakukannya. Para pelayan yang sudah diberi pesan oleh Maria, supaya melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus, kini mendapatkan perintah langsung dari Yesus. Yesus menyuruh mereka untuk mengisi enam tempayan itu dengan air sampai penuh. Setelah itu, Yesus menyuruh mereka mencedok air itu yang sekarang sudah berubah menjadi anggur, dan memberikannya kepada pemimpin pesta. Pemimpin pesta itu kaget, karena sang mempelai masih menyimpan anggur yang baik sampai akhir pesta. Dia tidak tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi para pelayan-pelayan itu dari mana tahu asal usul dari anggur itu.

Para pelayan ini menjadi saksi dari mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus. Mereka bukan saja melihat, tetapi juga ikut ambil bagian dalam karya Yesus ini. Para pelayan ini memiliki hati sebagai hamba. Mereka taat kepada perintah Yesus, tanpa banyak berkata-kata. Mereka tidak mempertanyakan apa yang diperintahkan Yesus itu, walaupun tampaknya tidak masuk akal. Berkat ketaatan para pelayan inilah, maka Yesus bisa menyatakan Kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Saudara-saudari terkasih, sebagai murid-murid Kristus kita juga harus memiliki hati sebagai hamba, yang mau taat dan setia kepada perintah-perintah Yesus. Pesan Bunda Maria kepada para pelayan, juga menjadi pesan yang amat penting bagi kita: “Apa yang Ia katakan kepadamu, lakukanlah itu!” Bunda Maria juga meminta kita untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Yesus, Putranya. Perintah-perintah Yesus yang terdapat dalam Kitab Suci haruslah menjadi pedoman hidup kita dan harus kita taati dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam menjalankan perintah Yesus mungkin kita pernah bertanya, “Mengapa saya harus melakukannya?” “Apa manfaatnya bagi saya?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam pikiran kita. Jika kita hanya menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan hasrat ingin tahu kita, maka ujung-ujungnya kita tidak akan pernah melakukan apa yang dikatakan Yesus kepada kita melalui Sabda-Nya. Memang, seringkali apa yang kita kehendaki tidak sejalan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Namun, percayalah bahwa apa yang Tuhan kehendaki itu semuanya baik dan benar, serta berguna bagi kehidupan kita.

Walaupun kita tidak mampu memahami jalan pikiran Allah, namun tetaplah kita harus taat dan setia kepada perintah-perintah-Nya, yang tampak jelas dalam Sabda Putra-Nya, Yesus Kristus. Kita harus memiliki hati sebagai hamba, seperti para pelayan dalam pernikahan di Kana, yang tidak menyanggah sedikit pun apa yang Yesus perintahkan kepada mereka untuk dilakukan. Dan hasilnya, berkat ketaatan mereka, mereka telah bekerja sama dengan Yesus untuk menyediakan anggur baru yang terbaik dalam pesta pernikahan tersebut.

Kita semua yang diundang dalam perjamuan Tuhan ini juga akan mengalami Mukjizat dalam hidup kita jika kita senantiasa taat dan setia kepada perintah-perintah Tuhan. Mukjizat terjadi di saat kemampuan manusiawi kita tidak lagi mampu mengatasi berbagai problem hidup yang kita hadapi. Dan saat itulah tangan Tuhan bekerja dan menyempurnakan apa yang kita lakukan. Maka, kita harus senantiasa menyerahkan diri kepada kemahakuasaan Allah, dan percaya, bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi hidup kita, walaupun itu di luar kemampuan kita, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Marilah kita mohon rahmat ketaatan sebagai seorang hamba, agar kita juga boleh mengalami pertolongan dari Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here